denet

Enjoy share
 
IndeksIndeks    FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  LoginLogin  

Share | 
 

 Supersemar dan Kesalahan Itu

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
SepTa Guevara
Tukang Komentar
Tukang Komentar


Jumlah posting : 186
Age : 29
Location : JEMBER MY TOWN
Registration date : 09.10.07

PostSubyek: Supersemar dan Kesalahan Itu   Mon Oct 29, 2007 3:42 pm

JUMAT lalu, 11 Maret 2005, Surat Perintah Sebelas Maret (disingkat Supersemar) berumur 39 tahun. Masyarakat umum, terutama yang berusia di bawah 50 tahun, mungkin sudah lupa tentang Supersemar, bahkan siswa-siswa SMU mungkin juga tidak tahu apa itu Supersemar. Mungkin juga masyarakat sudah tidak peduli dengan urusan ini karena disibukkan oleh hal-hal aktual yang menyergap kehidupan yang semakin sulit mulai dari urusan BBM hingga urusan sengketa dengan negeri jiran. Namun bagi sejarawan, Supersemar adalah sebuah persoalan yang belum selesai.

Lima tahun lalu, penulis sudah pernah menulis tentang hal ini di "Pikiran Rakyat". Kini, sudah ada penambahan data baru atau kesaksian baru, meski tidak signifikan. Untuk memahami persoalan ini kita simak kembali "binatang" apa yang namanya Supersemar itu.

Lahirnya Supersemar

Versi resmi mengenai lahirnya Supersemar adalah sebagai berikut. Menjelang akhir tahun 1965, operasi militer terhadap sisa-sisa G-30-S boleh dikatakan sudah selesai. Hanya penyelesaian politik terhadap peristiwa tersebut belum dilaksanakan oleh Presiden Soekarno. PKI belum dibubarkan. Sementara krisis ekonomi tambah parah. Laju inflasi mencapai 650%. Tanggal 13 Desember 1965 bahkan dilakukan devaluasi, uang bernilai Rp 1.000 turun menjadi Rp 1. Sementara itu harga-harga membubung naik. Tak ayal lagi, demonstrasi yang dilakukan mahasiswa dan pelajar yang tergabung dalam KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia) marak di mana-mana. Selama 60 hari, dengan dipelopori para mahasiswa Universitas Indonesia, seluruh jalanan ibu kota dipenuhi demonstran. Mereka menyampaikan Tri Tuntutan Rakyat (Tritura), yang isinya: Bubarkan PKI, Retool Kabinet Dwikora, dan Turunkan Harga.

Sementara itu, sejak terjadinya peristiwa Gerakan 30 September 1965, terjadi perbedaan pendapat antara Presiden Soekarno dengan Jenderal Soeharto yang menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat. Perbedaan pendapat berfokus pada cara untuk mengatasi krisis nasional yang semakin memuncak setelah terjadinya G-30-S tersebut. Soeharto berpendapat bahwa pergolakan rakyat tidak akan reda selama PKI tidak dibubarkan. Sementara itu Soekarno menyatakan bahwa ia tidak mungkin membubarkan PKI karena hal itu bertentangan dengan doktrin Nasakom yang telah dicanangkan ke seluruh dunia. Perbedaan pendapat ini selalu muncul dalam pertemuan-pertemuan berikutnya di antara keduanya. Soeharto kemudian menyediakan diri untuk membubarkan PKI asal mendapat kebebasan bertindak dari presiden.

Pada tanggal 11 Maret 1966, Kabinet (yang dijuluki "Kabinet 100 Menteri" karena jumlah menterinya mencapai 102 orang) mengadakan sidang paripurna untuk mencari jalan ke luar dari krisis. Sidang diboikot, para mahasiswa melakukan pengempesan ban mobil di jalan-jalan menuju ke istana. Ketika Presiden berpidato, Brigjen Sabur, Komandan Cakrabirawa (Pengawal Presiden) memberitahukan bahwa istana sudah dikepung pasukan tak dikenal. Meskipun ada jaminan dari Pangdam Jaya, Brigjen Amir Mahmud bahwa keadaan tetap aman, Presiden Soekarno yang tetap merasa khawatir, pergi dengan helikopter ke Istana Bogor bersama Wakil Perdana Menteri Dr. Subandrio dan Dr. Chairul Saleh.

Setelah itu, tiga perwira tinggi AD, Mayjen Basuki Rahmat (Menteri Urusan Veteran), Brigjen M. Yusuf (Menteri Perindustrian), dan Brigjen Amir Machmud, dengan seizin atasannya yaitu Jendral Soeharto yang menjabat Menpangad merangkap Pangkopkamtib, pergi menemui Presiden Soekarno di Bogor. Di sana ketiganya mengadakan pembicaraan dengan Presiden dengan didampingi ketiga Waperdam, yaitu Dr. Subandrio, Dr. Chairul Saleh, dan Dr. J. Leimena. Pembicaraan yang berlangsung berjam-jam itu berkisar seputar cara-cara yang tepat untuk mengatasi keadaan dan memulihkan kewibawaan presiden.

Akhirnya, Presiden Soekarno memutuskan untuk membuat surat perintah yang ditujukan kepada Jenderal Soeharto, yang intinya adalah memberi wewenang kepada Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan memulihkan keamanan negara, menjaga ajaran Bung Karno, menjaga keamanan Presiden, dan melaporkan kepada Presiden. Jadi, Soeharto diberi kewenangan untuk mengambil semua tindakan yang perlu guna mengatasi keadaan dan memulihkan kewibawaan presiden. Teks surat dirumuskan oleh ketiga wakil perdana menteri bersama ketiga perwira tinggi AD yang disebut di atas ditambah dengan Brigjen Sabur sebagai sekretaris. Surat itu kemudian ditandatangani oleh presiden. Serah terima secara resmi Surat Perintah 11 Maret 1966 dari ketiga perwira tinggi TNI-AD kepada Soeharto dilaksanakan pada tanggal 11 Maret itu juga, sekira pukul 21.00 WIB, bertempat di markas Kostrad. Surat inilah yang dikenal sebagai Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar)

Lepas tengah malam tanggal 11 Maret 1966, Jenderal Soeharto membubarkan PKI dengan dasar hukum surat perintah tersebut. PKI beserta ormas-ormasnya dilarang di seluruh Indonesia terhitung sejak 12 Maret 1966. Seminggu kemudian, 15 menteri yang dinilai terlibat dalam G-30-S ditahan. Dengan demikian, dua dari Tritura, sudah dilaksanakan. Popularitas Soeharto pun meningkat. Ternyata setelah Supersemar dilaksanakan, kewibawaan Presiden Soekarno tidak pulih. Antara tahun 1966-1967 terjadi dualisme kepemimpinan nasional, yaitu Soekarno sebagai presiden dan Soeharto sebagai Pengemban Supersemar yang dikukuhkan dalam Ketetapan MPRS No. IX/MPRS/66.

Soeharto kemudian ditugaskan membentuk Kabinet Ampera yang dibebani tugas pokok memulihkan perekonomian dan menstabilkan kondisi politik. Konflik kepemimpinan tampaknya berakhir setelah tanggal 20 Februari 1967, ketika Presiden Soekarno menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada Jenderal Soeharto selaku Pengemban Tap No. IX/MPRS/66. Demikianlah riwayat singkat Supersemar.

Kontroversi

Masih pada masa Orde Baru, orang mulai mempertanyakan naskah asli Supersemar. Menanggapi hal ini, Mensesneg Moerdiono waktu itu, secara eksplisit mengatakan bahwa dokumen asli Supersemar untuk sementara bisa dikatakan hilang. Hal ini dikatakannya ketika menghadiri Simposium Mahasiswa Indonesia 1991 di Universitas Gadjahmada, Yogyakarta, tanggal 25 September 1991 (baca: Kompas, 26 September 1991).

Selanjutnya, pada bulan Maret 1992, mantan Mendagri Amir Machmud memberi keterangan melalui media elektronik maupun media cetak bahwa naskah Supersemar yang diserahkannya bersama kedua mitranya kepada Jenderal Soeharto waktu itu terdiri dari dua lembar kertas. Saat B.M. Diah menyerahkan naskah teks proklamasi yang ditulis tangan Soekarno dengan pensil kepada Presiden Soeharto pada tanggal 19 Mei 1992, Mensesneg Moerdiono mengeluarkan imbauan agar bagi siapa saja yang memegang naskah asli Supersemar untuk segera memberikannya kepada pemerintah (baca: Kompas, 20 Mei 1992; Pikiran Rakyat, 20 Mei 1992).

Sementara itu, menurut keterangan K.H. Yusuf Hasyim dari Tebuireng Jombang, naskah Supersemar berada di tangan Almarhum Mas Agung, tokoh yang dekat dengan Soekarno. Konon, naskah asli itu disimpan di sebuah bank di luar negeri, mungkin juga di Singapura.

Setelah Orde Baru berakhir tahun 1998, masyarakat bagai macan dibangunkan dari tidur, apa saja yang dianggap dosa-dosa Orde Baru dibongkar. Termasuk Supersemar. Muncul pendapat yang lebih keras, bahwa Supersemar sesungguhnya adalah "kudeta" yang dilakukan Soeharto terhadap Soekarno. Supersemar adalah peralihan kekuasaan. Orang pun semakin deras mempertanyakan di manakah naskah Supersemar yang asli? Dengan membaca isi naskah asli, maka kesimpulan ataupun vonis bisa dijatuhkan.

Naskah Supersemar yang kini disimpan di Arsip Nasional, jelas bukan naskah asli. Bahkan di antara naskah-naskah yang merupakan salinan itu pun terdapat 23 (dua puluh tiga) item yang berbeda satu sama lain, meski garis besar isinya sama. Setahun yang lalu, Bang Ali (Ali Sadikin), mantan Gubernur DKI Jaya, menelefon penulis dan memberikan informasi bahwa Almarhum Ratu Alamsyah Prawiranegara (mantan Menko Kesra) melihat langsung surat itu diberikan kepada mantan Presiden Soeharto dan disimpan oleh ajudannya (tidak jelas siapa). Namun, bagaimana mungkin kita bisa menanyakan kebenaran kesaksian kepada orang yang sudah meninggal. Tahun lalu, sejarawan masih berharap, agar Jenderal M. Jusuf yang dikenal lurus, mau memberikan klarifikasi. Pendekatan pun dilakukan. Kunci untuk mendapat kesaksian yang benar adalah adanya kemampuan dan kemauan dari mereka yang terlibat untuk mengungkapkan kebenaran. Para sejarawan yakin, Jenderal Jusuf mampu untuk memberikan klarifikasi, mengingat ia adalah eyewitness (saksi mata) yang merupakan sumber primer bagi satu peristiwa sejarah nasional yang penting. Namun, apa daya, ternyata jenderal yang lurus ini pun tidak mau memberikan keterangan yang diminta hingga wafatnya.

Oleh karena sekarang, mayoritas pelaku dan saksi sejarah tentang Supersemar sudah meninggal, maka kini harapan satu-satunya bagi sejarawan adalah menanyai pelaku peristiwa yang masih hidup, yaitu mantan Presiden Soeharto. Apakah pelaku utama ini mau dan mampu memberikan keterangan tentang di mana naskah asli dan bagaimana tepatnya isi naskah itu? Andaikata secara fisik dan psikis mampu, apakah mantan Presiden RI kedua ini mau mengungkapkannya mengingat keterangan itulah yang akan menjatuhkan vonis bagi dirinya? Agaknya kalau tidak ada kerelaan untuk mengungkapkannya, jalan satu-satunya adalah melalui jalur hukum.

Kesalahan itu

Andaikata pun naskah asli memang tidak bisa ditemukan (mungkin sudah dihilangkan atau hilang atau ada yang menyimpannya sebagai pusaka atau entah di mana), apa yang dilakukan oleh mantan Presiden Soeharto sehubungan dengan Supersemar itu, jelas tidak sesuai dengan keinginan atau maksud pemberi surat perintah. Ketika PKI dibubarkan dengan alasan memulihkan keamanan negara, tindakan ini sebenarnya bermakna ganda. Memang keamanan berhasil dipulihkan, tetapi perintah kedua, yaitu menjaga ajaran Bung Karno, sudah dilanggar. Membubarkan PKI berarti menghancurkan ajaran Bung Karno (Nasakom= Nasionalis, Agama, dan Komunis). Selain itu, "pengasingan" Bung Karno di istana tanpa dibolehkan mendengar radio atau membaca koran dan sejumlah larangan lainnya, itu juga bukan berarti menjaga keamanan Presiden karena Bung Karno menjadi sangat menderita hingga wafatnya. Ini berarti melanggar perintah ketiga. Lalu apakah masih perlu melaporkan semua tindakan itu?

Penutup

Supersemar adalah pelajaran berdemokrasi yang sangat berharga bagi bangsa ini. Betapa pun juga, seorang pemimpin yang hebat, tetapi kemudian berubah menjadi penguasa yang otoriter, ingin menguasai alam pikiran rakyat dengan indoktrinasi, menguasai ekonomi negara, bahkan memori kolektif bangsa pun dikendalikan, maka akan melahirkan paradigma konflik. Dan penyelesaian konflik bisa saja berupa kudeta, peralihan kekuasaan, atau diturunkan secara paksa.

Sumber : Pikiran Rakyat
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
dp10
DenetMania
DenetMania


Jumlah posting : 458
Location : Warnet lah..!
Registration date : 09.10.07

PostSubyek: Re: Supersemar dan Kesalahan Itu   Tue Oct 30, 2007 11:58 am

Soekarno adalah seorang presiden yang hebat keyeen!! . Aku sendiri sangat mengaguminya. Kalo membaca biografi tentang bung karno, dia sungguh orang yang berkarakter. Dia begitu dicintai rakyatnya, juga tegas dan pemberani. Jangankan mengganyang Malaysia, Amerika saja ditantang.

Tapi kalo melihat sekarang hiks

hadoooohhhh,,,, weleh

diobok2 Malaysia aja kita ga bisa apa2 histeris

Singapore yang negaranya ga lebih besar dari Madura aja kita jg minder mentok

Emang sangat disayangkan figur seperti bung Karno sudah tidak kita dapati lagi di masa sekarang ini.
Yang juga mengherankan adalah karakter bung Karno ko ga menitis ke keturunannya ya?
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Supersemar dan Kesalahan Itu
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» 5 Kesalahan Pria Saat Berciuman
» Kesalahan Yang Indah Namun Begitu Memilukan

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
denet :: Pengetahuan :: Edukasi-
Navigasi: